Akmal Marhali selaku Koordinator Save Our Soccer nampaknya juga tertarik untuk membahas mengenai permasalahan yang dialami oleh Marko Simic dan Persija Jakarta.

Tak heran, bapak Akmal Marhali memang sering untuk menyampaikan pandangannya terhadap berita-berita yang sedang viral dan statementnya banyak yang kontroversial.

Pengamat sepak bola satu ini lebih sering komentari mengenai Timnas Indonesia sebenarnya, namun kali ini cukup mengejutkan karena ia juga komentari soal kasus Marko Simic dan Persija.

Awalnya, Marko Simic melalui Instagram pribadinya menyatakan mundur dari Persija Jakarta lantaran gajinya yang menurutnya tak dibayar atau ditunggak selama satu tahun.

“Dengan berat hati saya harus mengumumkan bahwa saya telah mengakhiri kontrak saya secara sepihak dengan Persija,”

“karena klub telah melanggar kontrak setelah tidak membayar gaji saya selama satu tahun,” tulis Simic dalam pernyataan yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya @markosimic_77.

Namun, Persija membantah hal itu karena tetap menggaji Marko Simic sebesar 25 persen dari kontrak sebelumnya sesuai Surat Keputusan (SK) nomor 69.

Persija Jakarta juga mengeluarkan official statement mengenai hal ini dan diunggah satu hari setelah Marko Simic umumkan ia keluar dari klub lantaran gaji yang ditunggak.

Baca Juga:   Heboh di Medsos, Marko Simic Kembali Perkuat Persija Jakarta

“Persija adalah klub yang patuh dan taat hukum,” tulis Persija dalam pernyataan tersebut.

“Tidak benar, ada pernyataan yang menyebutkan bahwa gaji pemain tidak dibayar selama satu tahun,” jelas mereka.

Akmal ikut berkomentar, menurutnya kasus Marko Simic ini bukan hal baru bahkan ia menyalahkan PSSI dalam kasus rumit ini.

“SK PSSI nomor 69 yang tidak punya kekuatan hukum yang kuat dalam lex sportiva.”

“Karena, kontrak kerja profesional hanya melibatkan klub sebagai entity commercial dan pemain sebagai pekerja,” ujarnya kepada GenPI.co, Rabu (27/4).

Baca Juga:   Tak Terima dengan Official Statement Persija, Marko Simic Lapor FIFA dan Yakin Menang

Dia mengatakan, keputusan sepihak PSSI yang menetapkan jumlah pembayaran maksimal 25 persen sebagai bentuk intervensi.

Menurut Akmal Marhali, keputusan PSSI tersebut lebih berpihak kepada tim bukan pemain, namun itu bertentangan dengan AFC dan FIFA.

“ini bertentangan dengan AFC dan FIFA,” ujarnya.

Bukan kasus baru, Akmal memberikan contoh kasus serupa saat itu terjadi kepada Alex Goncalves dan Persikabo, pemain yang melapor ke FIFA akhirnya menang dalam gugatannya.

“Persikabo diwajibkan membayarkan secara penuh,” tutupnya.

(Editor/Yusril Fahmi)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan