Perusahaan Belgia bernama Target Eleven melalui pengadilan Arbitrase untuk olahraga (CAS) meminta PSSI untuk segera melunasi utangnya yang menyentuh 47 juta Dollar AS.

47 juta Dollar Amerika Serikat jika dirupiahkan sekitar 672 miliar, sebuah angka yang sangat besar tentunya untuk bisa dilunasi oleh organisasi sepak bola tersebut.

Perlu diketahui, Target Eleven adalah perusahaan asal Belgia yang bergerak di bidang agensi olahraga, menurut laporan dari laman RTBF tagihan tersebut buntut dari kerja sama pada tahun 2013.

Kala itu, PSSI yang dipimpin oleh Arifin Husein bekerja sama dengan Target Eleven untuk pengelolaan dua kasta liga selama sepuluh tahun, sudah bekerja sama di 2013 namun PSSI alami kendala.

Kala itu ada kisruh di tubuh organisasi, dan di tahun 2016 meski sudah lakukan pergantian Ketua Umum namun PSSI tak alami kemajuan yang signifikan dari kerja sama tersebut.

Target Eleven mengaku mengenai kerja sama tersebut, dimulai dari Juni 2013 hingga kini belum menerima pembayaran dari PSSI.

Target Eleven rencananya akan mengajukan gugatan ke CAS di Lausanne pada 9 Juni 2021. Gugatan itu dilayangkan karena tercantum dalam kesepakatan kerja sama.

Menurut Indosport, PSSI meminta permasalahan ini diselesaikan secara damai dan memohon kepada Target Eleven untuk menghentikan sementara proses gugatan yang mereka lakukan.

Tapi, selama berbulan-bulan tidak ada kelanjutan, sehingga Target Eleven menganggap PSSI cenderung mengulur waktu.

Dikonfirmasi soal hal di atas, Sekjen PSSI, Yunus Nusi menyampaikan bahwa masalah tersebut sedang dipelajari tim tim hukum. Kerja sama itu disebut dilakukan saat era Djohar Arifin Husein.

Baca Juga:   Beredar Kabar soal FIFA Match Day Indonesia Vs Argentina Akan Berlangsung 18-20 Juni 2023, PSSI Bilang Begini

“Nanti lengkapnya komite hukum yang jawab. PSSI (saat ini) tidak terlalu tahu persis masalah ini,” kata Yunus lewat pesan singkat.

“Bermasalahnya waktu itu dengan LPI (Liga Primer Indonesia). Yang dipermasalahkan itu di tahun 2013 saat zaman Pak Djohar,” imbuhnya.

Kala itu, di era Djohar Arifin Husein memang sedang ada dualisme antara LPI dan ISL di tahun 2013, LPI kala itu masih dianggap menjadi kompetisi resmi namun ISL juga dianggap resmi saat itu.

(Editor/Gamin Min)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan